Senin, 02 Juli 2018

Jangan Buang Waktu dan Uang Anda untuk Ikut Pelatihan Public Speaking

Jangan Buang Waktu dan Uang Anda untuk Ikut Pelatihan Public Speaking Jikalau Anda seorang business professional dan berencana mengikuti pelatihan public speaking, lebih baik urungkan saja niat Anda. Training presentasi justru akan membuat Anda frustasi, bingung plus membuang-buang waktu dan uang Anda.

Pendapat itulah yang dikemukakan oleh Kristi Hedges 🙂 , seorang mantan trainer public speaking dalam artikelnya yang dimuat di Majalah Forbes tahun 2012. Jika Anda ingin membaca artikel lengkapnya, bisa disimak melalui link berikut ini.

Dia berargumentasi bahwa untuk seorang business professional justru pelatihan public speaking bisa berbahaya. Anda malah akan menjadi frustasi, bingung dan tidak lagi otentik. Plus ketika meninggalkan ruangan training paling Anda sudah lupa 90% dari apa yang diajarkan.

Pelatihan public speaking cocok – hanya jika Anda ingin menjadi seorang pembicara professional (demikianlah ungkapnya)
Wuihh… kontroversial ya pernyataannya!

Memang artikel yang ditulis oleh Kristi Hedges di atas sangatlah kontroversial, dari komentar yang ada juga banyak yang pro dan kontra. Ada yang setuju, menganggap bahwa pelatihan public speaking tidak terlalu membawa manfaat, akan tetapi banyak pula yang menyanggah dengan mengatakan bahwa mereka mendapat banyak manfaat dari mengikuti pelatihan public speaking.
Lalu.. menurut Pak David sendiri bagaimana? (walau dalam hati Anda berkata “Paling Pak David ya nggak setuju, kalau benar pelatihan public speaking tidak bermanfaat… Pak David nggak lagi dapat pekerjaan dan blog ini akhirnya ditutup 🙂 “)

Hmm…. kalau menurut saya sendiri jawabannya adalah tergantung.

Pelatihan public speaking bagi seorang business professional bisa menjadi tidak bermanfaat atau bisa saja menjadi bermanfaat. Berikut adalah ulasan saya mengapa demikian
Pelatihan Public Speaking TIDAK bermanfaat bagi Anda jika….
1. Anda memang tidak berminat dan tidak merasa perlu

Haha.. saya banyak menjumpai orang yang datang ke acara training bukan karena ingin belajar, akan tetapi karena:
Ingin mendapat absensi atau kredit poin (hayoo.. yang mahasiswa betul kan?)
Disuruh datang oleh boss atau atasan
Salah masuk ruangan seminar 🙂

Nah, jika kondisinya seperti ini, maka apapun topik training / seminarnya tetap saja akan susah mendapat manfaat. Walaupun secara fisik mereka berada di dalam ruangan, akan tetapi pikiran dan fokus mereka mengembara ke mana-mana. Akhirnya mereka justru sibuk bermain gadget atau ngobrol dengan teman yang ada di sebelahnya.

Ada juga mereka yang datang dengan memiliki mindset “gelas yang terisi penuh” artinya mereka merasa sudah menjadi yang paling tahu, paling jago dan paling benar. Mereka tidak bisa lagi menerima dan belajar tentang pemikiran dan ide-ide baru. Biasanya mereka ini yang suka berkomentar panjang lebar atau bahkan mengetest trainernya dengan pertanyaan yang aneh-aneh.
2. Anda tidak pernah mempraktekkan apa yang sudah dipelajari

Untuk membahas hal ini, saya ingin mengilustrasikan dengan sebuah cerita. Berikut ceritanya:

Ada seorang bernama Pak Abeng yang memiliki usaha penyeberangan dengan perahu getek (semacam perahu sampan). Tiap hari Pak Abeng ini selalu menyeberangkan orang dari satu sisi sungai ke sisi yang lain.

Pada suatu hari datanglah badai besar yang menenggelamkan perahu Pak Abeng. Pak Abeng jatuh ke dalam air dan panik setengah mati karena dia tidak bisa berenang. Hanya karena kemurahan Tuhan-lah dia akhirnya bisa selamat dan akhirnya terdampar di tepi sungai.

Pak Abeng pun bersyukur tiada henti-hentinya dan mulai hari itu dia bertekad bulat untuk….. belajar berenang 🙂 Dia pergi ke Gramedia, membeli dan membaca buku – buku tentang pelajaran berenang. Tidak ketinggalan dia pun menonton dari youtube sekian banyak video tutorial tentang cara berenang efektif.

Ketika datang badai besar lagi melanda perahu getek-nya, kali ini Pak Abeng tidak lagi takut. Dia percaya diri karena sudah belajar Tempat Kursus Online Dan Belajar Online Terbaik Di Indonesia dan tahu bagaimana cara berenang. Tanpa ragu-ragu dia-pun melompat ke sungai.

Dan tidak pernah kembali lagi setelah itu.

Hari itu menjadi hari terakhir Pak Abeng berada di dunia ini. Anda tidak bisa belajar berenang hanya dengan membaca buku atau menonton video, supaya bisa berenang Anda harus terjun ke kolam renang dan mempraktekkannya.

Sama halnya dengan berenang, public speaking juga sebuah skill yang harus dipraktekkan. Buku, video dan training bisa membantu, akan tetapi di akhir Anda-lah yang harus mempraktekkannya.

Dalam pelatihan public speaking Anda akan mendapat pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill).
Untuk pengetahuan memang bisa langsung Anda terapkan, misalnya saja Anda jadi mengerti fungsi tombol B ketika berpresentasi menggunakan Power Point (bagi yang tidak tahu, fungsinya adalah untuk mematikan layar proyektor). Haha.. dalam hal ini saya kira Anda tidak sampai perlu berlatih bagaimana cara menekan tombol B secara efektif, Anda bisa langsung menerapkan pengetahuan baru ini.

Hanya saja untuk ketrampilan (skill), harus dipraktekkan dan diulang terus menerus sampai akhirnya Anda benar-benar mahir. Misalnya saja untuk menguasai cara menggunakan humor atau membuka presentasi, Anda tidak bisa hanya sekedar mengetahui caranya saja. Anda harus benar-benar mencoba, mempraktekkan dan mengulangnya sehingga akhirnya Anda benar-benar mahir.

Oleh karena itu setelah memberikan pelatihan saya selalu menyarankan peserta untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari. Selain langsung mempraktekkannya dalam presentasi yang Anda lakukan dalam pekerjaan, salah satu cara yang tepat untuk berlatih presentasi adalah dengan bergabung ke klub Toastmasters yang ada di kota Anda.

Atau Anda bisa juga mencoba teknik yang sudah dipelajari dalam percakapan sehari-hari. “Loohh… kok bisa Pak, bukankah menurut Pak David skill dalam conversation dan presentasi itu berbeda?” Yup.. memang berbeda, akan tetapi ada beberapa kesamaan dan prinsip yang bisa Anda terapkan. Contohnya saja cara menghadirkan pembicaraan terstuktur dan cara bercerita.
3. Ketika pelatihan berfokus pada hal yang keliru

Berikut saya ceritakan pengalaman pribadi saya ketika pernah belajar public speaking pada performance coach (baca: orang dari background drama dan teater).

Dalam pelatihan si trainer memfokuskan pembelajaran pada bidang yang dikuasainya yaitu dalam hal bahasa tubuh. Setelah diberi waktu untuk mempersiapkan isi presentasi, maka kita pun tampil satu persatu untuk mendapat feedback dari dia.

Dan akhirnya tiba giliran saya 🙂

Baru 5 detik berjalan “STOP!!”. “David, mengapa kamu kamu gerakkan tangan kananmu naik? Tidak ada kata-kata dalam presentasimu yang mengharuskan kamu untuk menggerakkan tangan kananmu”

“Hah.. saya malah tidak sadar kalau tangan kanan saya naik” pikir saya waktu itu.

Setelah itu pun ada sekian banyak “CUT!!!” “STOPP!!” “Mengapa tangan ke situ?””Badannya musti begini” “Nah.. langkahnya ke situ”

Setelah itupun saya merasa bahwa hanya untuk menyampaikan presentasi berdurasi tidak sampai dua menit susahnya bukan main. Sering ketika bahasa tubuhnya benar, kata-katanya yang musti diucapkan malah lupa.

Pengalaman di atas justru malah membuat saya frustasi dan berpikir membawakan presentasi itu susahnya bukan main. Menurut saya, pendekatan yang diguanakan di atas mungkin sesuai untuk seni peran (seperti drama, teater atau peran) akan tetapi tidak sesuai untuk sebuah presentasi bisnis (Haha.. karena itu juga mungkin akhirnya saya juga tidak menjadi artis sinetron).

Menurut saya, dalam sebuah presentasi bisnis yang harusnya menjadi fokus utama adalah penyusunan konten. Berikut adalah contoh-contohnya:
Bagaimana Anda memilih informasi yang tepat untuk disajikan pada boss atau klien
Bagaimana cara menjelaskan atau meyakinkan sehingga pendengar mudah mengerti, paham dan mengikuti apa yang Anda sampaikan
Bagaimana Anda bisa mengolah angka, data dan informasi yang melimpah ke dalam sebuah presentasi bisnis yang simpel

Scott Berkun dalam bukunya Confession of Public Speaker juga menyatakan bahwa kebanyakan presentasi bisnis gagal justru karena lack of thinking (kurangnya pemikiran). Dalam artian presenter masih belum benar-benar bisa menstrukturkan pemikiran mereka sehingga bisa simpel, jelas dan mudah dipahami.

Tahapan planning, penyusunan konten dan berpikir terstruktur itulah yang seharusnya menjadi fokus utama dalam pelatihan public speaking untuk business professional.

Aspek delivery (cara penyampaian) memang perlu juga dipelajari akan tetapi disesuaikan dengan konteks bisnis. Dalam artian Anda tidak bisa menyampaikan presentasi bisnis Anda dengan berlari, teriak-teriak atau lompat-lompat seperti seorang motivator. Ada cara-cara tersendiri dalam menyampaikan sebuah presentasi bisnis.

Jadi menurut saya, itulah saat-saat dimana pelatihan public speaking (untuk business professional) hanya akan membuang-buang waktu dan uang Anda. Lalu kapan pelatihan public speaking akan membawa manfaat maksimal untuk Anda? Nah.. simak pemaparan saya berikut ini
Pelatihan Public Speaking akan Bermanfaat bagi Anda Jika…

Sebelumnya saya ingin cerita dulu tentang pengalaman pribadi saya mengikuti pelatihan public speaking.

More :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar